teori agenda seting

Februari 3, 2010

Teori Agenda Seting (genda Setting Theory) adalah teori yang menyatakan bahwa media massa berlaku merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa. Dua asumsi dasar yang paling mendasari penelitian tentang penentuan agenda adalah:
(1) masyarakat pers dan mass media tidak mencerminkan kenyataan; mereka menyaring dan membentuk isu;
(2) konsentrasi media massa hanya pada beberapa masalah masyarakat untuk ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting daripada isu-isu lain;

Salah satu aspek yang paling penting dalam konsep penentuan agenda adalah peran fenomena komunikasi massa, berbagai media massa memiliki penentuan agenda yang potensial berbeda termasuk intervensi dari pemodal

Teori Agenda Setting dimulai dengan suatu asumsi bahwa media massa menyaring berita, artikel, atau tulisan yang akan disiarkannya. Secara selektif, “gatekeepers” seperti penyunting, redaksi, bahkan wartawan sendiri menentukan mana yang pantas diberitkan dan mana yang harus disembunyikan. Setiap kejadian atau isu diberi bobot tertentu dengan panjang penyajian (ruang dalam surat kabar, waktu pada televisi dan radio) dan cara penonjolan (ukuran judul, letak pada suratkabar, frekuensi penayangan, posisi dalam suratkabar, posisi dalam jam tayang).

Teori Agenda Setting pertama dikemukakan oleh Walter Lippman (1965) pada konsep “The World Outside and the Picture in our head”, penelitian empiris teori ini dilakukan Mc Combs dan Shaw ketika mereka meniliti pemilihan presiden tahun 1972. Mereka mengatakan antara lain walaupun para ilmuwan yang meneliti perilaku manusia belum menemukan kekuatan media seperti yang disinyalir oleh pandangan masyarakat yang konvensional, belakangan ini mereka menemukan cukup bukti bahwa para penyunting dan penyiar memainkan peranan yang penting dalam membentuk realitas social kita, ketika mereka melaksanakan tugas keseharian mereka dalam menonjolkan berita. Khalayak bukan saja belajar tentang isu-isu masyarakat dan hal-hal lain melalui media, meraka juga belajar sejauhmana pentingnya suatu isu atau topik dari penegasan yang diberikan oleh media massa. Misalnya, dalam merenungkan apa yang diucapkan kandidat selama kampanye, media massa tampaknya menentukan isu-isu yang penting. Dengan kata lain, media menetukan “acara” (agenda) kampanye. Dampak media massa, kemampuan untuk menimbulkan perubahan kognitif di antara individu-individu, telah dijuluki sebagai fungsi agenda setting dari komunikasi massa. Disinilah terletak efek komunikasi massa yang terpenting, kemampuan media untuk menstruktur dunia buat kita. Tapi yang jelas Agenda Setting telah membangkitkan kembali minat peneliti pada efek komunikasi massa.

definisi ilmu komunikasi

Januari 26, 2010

Komunikasi berasal dari bahasa Inggris communication dan berhubungan dengan bahasa latin communis, communico, communicare yang kesemuanya itu memiliki pengertian “membuat sama (to make common)”. Komunikasi menyatakan bahwa suatu pikiran, makna, atau pesan dianut secara sama. Akan tetapi definisi-definisi kontemporer menyarankan bahwa komunikasi merujuk pada cara berbagi hal-hal tersebut।

Sedangkan menurut ensiklopedia wikipedia.org, Komunikasi memiliki pengertian sebagai “proses sistematik bertukar informasi di antara pihak-pihak, biasanya lewat system simbol”. Dan menurut Carl I. Hovland Komunikasi adalah “proses mengubah perilaku orang (Communication is the process to modify the behavior of other individuals )”.

Selanjutnya komunikasi juga berkaitan dengan komunitas (Community) atau perkumpulan। Yang juga menekankan pada kebersamaan dan kesamaan. Dimana dalam sebuah komunitas tertentu tentu terbangun karena adanya kesamaan. Entah kesamaan pendapat, agama, bangsa, ataupun tujuan. Dan mereka dapat terus-menerus berjalan bersama karena adanya komunikasi di antara mereka.

Jadi menurut saya, secara singkat Komunikasi dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk berbagi informasi di antara mereka.

Dari paparan di atas tentu sekarang kita memiliki pandangan bagaimana komunikasi itu। Komunikasi merupakan suatu unsur keilmuan yang dapat dipelajari dan termasuk dalam rumpun ilmu sosial terapan. Ruang lingkupnya pun cukup luas karena komunikasi tidak hanya berkutat pada komunikasi lisan (verbal) melainkan masih ada komunikasi non verbal yang mencakup jurnalisme. Dan kesemua itu dapat kita pelajari lewat Ilmu Komunikasi

Bisa diartikan bahwa Ilmu Komunikasi adalah ilmu yang mempelajari berbagai aspek-aspek Komunikasi dan prakteknya. Sedangkan menurut Carl I. Hovland Ilmu Komunikasi adalah Upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegar asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap।

Dalam prakteknya hampir tiap hari kita memerlukan Komunikasi। Mulai dari berbicara kepada orang lain, mengirim SMS, mendengarkan dosen menjelaskan materi kuliah, hingga memberi makan hewan piarann merupakan beberapa contoh praktek komunikasi sehari-hari.

Salah satu bentuk praktek komunikasi yang sangat populer adalah pidato (public speaking). Dimana seorang pembicara/orator menyampaikan pesan-pesan yang diamanatkan kepadanya lewat lisan. Dengan diutamakan pembicaraan yang disampaikan orator tersebut harus dimengerti oleh pendengar (audience). Bagaimana caranya ? Tentunya dengan bahasa yang dimengerti oleh pendengar, yaitu bahasa setempat. Biasanya praktek public speaking dilakukan di depan khalayak ramai. Dimana seorang orator harus menyampaikan gagasannya dan mengemas sedemikinan rupa agar para pendengar mengerti dan melakukan apa yang diinginkannya (adanya perubahan sikap dan pendapat).

Demikianlah paparan singkat dari saya mengenai apa dan bagaimana komunikasi itu. Dan dengan mengerti definisi komunikasi kita sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi akan lebih mudah mempelajari materi-materi kuliah yang lebih lanjut. Ibaratnya pondasi awal harus kuat lebih dahulu sebelum membangun dinding, jendela, dan atap.
Literature :
www.id.wikipedia.org

Effendy, Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung : Remaja Rosdakarya, 1984.

Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2000.